Cerpen tema: Mistery - My Life My Journey

What's New?

Selasa, 08 Maret 2016

Cerpen tema: Mistery

Heihooo~! kembali lagi nih, bersama saya, Miss. Failure. Hm, itu istilah dari saya, oleh saya, dan untuk saya. (kayak demokrasi aja) tapi u know-lah, kenapa 'Miss. Failure'? gak usah di bahas. kalian mikir aja sendiri yah xD
Btw, aku kembali setelah beberapa bulan--hm, kurang lebih 2 bulan gak nge-post apa-apa, ya? Aku kembali membawa 'cerpen hasil kegagalan'. huft, namanya juga Miss. Failure. nyoba apa-apa pasti gagal. tapi semoga kedepannya gak gitu, ya~ gak gagal terus dari dulu :'D
And here's my short story about.... mistery. chek it out!


Ketika Matahari Terbenam

Hari pertama ketika aku menempati rumah baruku, aku menyaksikan sesuatu yang sangat menyeramkan. Ketika hendak tidur dan menutup jendela, aku merasa ada yang aneh pada rumah tetanggaku. Karena jendela kamarku berhadapan dengan jendela kamar tetangga baruku, jadi melalui jendela, aku bisa melihat dan mendengar sesuatu yang mengerikan di dalam ruangan di rumah tetangga yang bahkan belum kukenal itu.
Sesuatu melintas-lintas dengan cepat, dan tiba-tiba saja berhenti. Aku menyipitkan kedua mataku untuk memfokuskan diri pada sesosok mahkluk dengan pakaian panjang berwarna putih berdiri seolah menatapku dengan kedua mata hitamnya yang dikelilingi oleh kegelapan dalam ruangannya itu, ditambah rambut acak-acakan yang membuat wajahnya tidak terlihat dengan jelas. Seolah menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya, ia pun berjalan mendekati jendelanya dan aku pun mulai bersiap-siap menarik gorden untuk tidak melanjutkan melihat sosok mengerikan itu. Namun tiba-tiba saja ia menjerit dan membuatku tersentak. Dengan refleks, aku pun menutup gorden dan berbalik dengan gerakan cepat dan napas tercekat.
Apa itu tadi? Batinku dalam hati.
Keesokan paginya, aku melihat sepasang suami istri yang sudah lanjut usia keluar dari rumah dengan sosok misterius yang kulihat kemarin. Aku pun segera menghampiri mereka untuk sekedar menyapa dan memperkenalkan diri.
“Kau anak baru di sini, ya?” tanya seorang wanita tua dengan seulas senyum ramahnya. “Oh, iya. Aku baru saja pindah ke sini kemarin.” jawabku sambil menunjuk ke arah rumahku. Lalu aku kembali berkata sambil menjulurkan sebelah tanganku. “Hm, perkenalkan, namaku Lucy.”
Kini giliran lelaki tua yang meresponsku. Ia menjabat tanganku dan berkata, “Panggil saja kami berdua Tuan dan Nyonya Tyler.” Aku pun mengangguk untuk mengiyakan. Setelahnya, kami berbincang-bincang sedikit mengenai lingkungan rumah tempat tinggal baruku. Sebenarnya, aku ingin berbicara mengenai rumah tinggal Tuan dan Nyonya Tyler. Tapi mereka tiba-tiba saja bilang harus pergi.
“Senang bertemu denganmu, Lucy. Sekarang kami harus pergi.” ujar Nyonya Tyler dengan senyum yang mengembang di wajah keriputnya. “Oh, baiklah kalau begitu.”
***
Malam harinya, aku mendengar hal aneh lagi. Aku pun semakin merasa penasaran. Ketika matahari mulai terbenam, dan hari mulai gelap, segala hal aneh terjadi di rumah tetanggaku itu. Aku merasa, rumah itu menyimpan sebuah misteri yang sedikit bersifat mistis.
“Aaaaaa…!” terdengar jeritan. Aku pun segera berlari mendekati jendela sambil menyibak gorden dengan gerakan cepat. Kulihat ruangan di dalam rumah sudah gelap. Tapi ketika aku ingin melihat sosok misterius itu dengan lebih jelas lagi, ia malah menutup gorden dengan cepat dan sangat tiba-tiba.
“Huft, kurasa aku tak bisa melihatnya lagi.” ujarku pasrah ketika gorden sudah di tutup. Aku pun melakukan hal yang sama dan bergegas tidur. Ada berbagai hal yang berkecamuk dalam pikiranku mengenai berbagai kejadian di rumah tetanggaku itu. Apakah hanya aku yang menyadarinya?
Keesokan paginya, seperti biasa, aku menyapa Tuan dan Nyonya Tyler ketika tidak sengaja bertemu di depan rumah mereka. Tuan Tyler balas menyapaku. Namun Nyonya Tyler malah menatap aneh ke arahku, seolah ia sedang mengingat-ingat siapa diriku. Tapi tak mungkin dia melupakanku. Kita kan, sering bertemu.
“Apa kalian akan pergi hari ini?” tanyaku sedikit basa-basi.
“Iya. Kami harus pergi.” jawab Tuan Tyler. “Oh, jadi begitu. Kalian selalu saja pergi. Padahal, aku ingin mengunjungi kalian sekali-sekali.” Kataku dengan nada setengah bergurau. Tuan Tyler tertawa, lalu berkata, “Kita akan datang dengan cepat hari ini, Lucy. Nanti sore, kau bisa mengunjungi kami.”
“Wah, benarkah?” tanyaku dengan wajah berseri-seri. “Iya, tentu saja.”
Mendengarnya, membuatku merasa senang dan tidak sabar untuk bisa mengunjungi Tuan dan Nyonya Tyler ke dalam rumah mereka. Aku pun mulai menunggu sore hari tiba. Tapi rasanya seperti menunggu sesuatu yang akan tiba seminggu lagi. Benar-benar lama dan membosankan.
Aku menunggu di teras rumah sampai jam 5 sore,  dan akhirnya mereka datang. Sambil melambaikan tangan dan tersenyum, aku berteriak, “Tuan Tyler, Nyonya Tyler!” setelah mereka menoleh, aku pun berlari menghampiri. “Sesuai janji, aku akan mengunjungi kalian hari ini.”
Tuan Tyler tertawa kecil, “Baiklah, baiklah. Sepertinya kau sangat ingin mengunjungi kami.” setelah mengatakannya, Tuan Tyler pun mempersilahkanku untuk masuk. Aku merasa sedikit aneh, karena Nyonya Tyler daritadi hanya diam saja.
Aku berjalan mengekori Tuan dan Nyonya Tyler ke dalam ruang tamu. “Duduklah dulu di sini, Lucy.” Ujar Tuan Tyler, sedangkan Nyonya Tyler menaiki tangga untuk menuju ke ruangannya, tanpa mengatakan sepatah katapun kepadaku. “Oh, baiklah.” Setelah itu, Tuan Tyler pergi ke dapur.
Mataku pun mulai mengembara ke segala penjuru rumah. Beberapa barang, tampak seperti habis terjatuh dan dibiarkan. Setelah itu, aku pun beranjak dan kakiku mulai mengajakku untuk berkeliling. Rumah Tuan dan Nyonya Tyler memang tertata dengan baik dan rapi. Namun ada beberapa barang yang seperti habis dilempar.
“Lucy, kau sedang apa?” tiba-tiba Tuan Tyler sudah berdiri di dekat sofa sambil membawa dua gelas minuman. Aku menoleh dan tersenyum. “Oh, hanya berkeliling sedikit.” Aku pun berjalan mendekati sofa lalu duduk. Tuan Tyler memberikanku segelas minuman es jeruk dan ikut duduk di sofa. “Ngomong-ngomong, apakah Nyonya Tyler baik-baik saja? Dia bahkan tak bicara sepatah katapun daritadi.”
“Oh, tentu saja. Dia baik-baik saja.”
Namun aku merasa ada kebohongan di balik jawaban Tuan Tyler. “Apakah dia sedang beristirahat?” tanyaku. Lalu, Tuan Tyler mengangguk. Aku merasa Tuan dan Nyonya Tyler bertingkah aneh. Pasti ada hal yang mereka sembunyikan. “Apakah kalian tidak merasa ada yang aneh di tempat ini?” tanyaku.
“Apa maksudmu?” Tuan Tyler mengerutkan kening dan mulai menatapku lekat-lekat. “Maksudku, hm…, aku melihat begitu banyak barang-barang yang seperti habis di lempar. Apa yang terjadi?” aku balik menatap Tuan Tyler. Namun ia memalingkan wajahnya seolah tak ingin menjawab pertanyaanku, atau sedang mencari alasan untuk menjawab. “Hm…, kami berdua adalah orang tua yang ceroboh. Dan istriku sangat sering menjatuhkan barang-barang.” Kata Tuan Tyler. Namun aku tak lantas percaya itu adalah alasan yang sesungguhnya. “Minumlah, Lucy. Kita hanya punya waktu sedikit untuk berbincang-bincang. Ini sudah sore.” Kata Tuan Tyler lagi.
“Memangnya kenapa kalau sudah sore?”
“Matahari akan tenggelam, dan sebentar lagi akan gelap.” dengan satu kalimat itu, aku melihat perubahan ekspresi yang tak kutahu apa artinya dari Tuan Tyler.
Setelahnya, Tuan Tyler mengganti topik pembicaraan dengan cepat. Kita pun berbincang-bincang mengenai banyak hal. Sampai kusadari bahwa tak ada lagi cahaya yang memasuki ruangan melalui jendela. Hari sudah gelap. Namun aku menganggap inilah kesempatanku untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah ini. Lagipula, Tuan Tyler sepertinya masih ingin mengobrol denganku.
“Wah, tak terasa sudah pukul setengah delapan. Kurasa kau sebaiknya pulang sekarang, Lucy.” Akhirnya Tuan Tyler sadar bahwa ini sudah malam. Tapi aku segera menggeleng dan berkata, “Aku bosan di rumah. Kurasa sebaiknya aku di sini dulu.”
Ekspresi wajah Tuan Tyler tiba-tiba berubah. Ia tampak gelisah, namun berusaha untuk mengulaskan senyum. Kami pun mengobrol kembali. Namun aku melihat gerak-gerik yang aneh pada Tuan Tyler. Saat berbicara, ia terkadang melirik ke arah jam dinding dan sedikit mendongak menatap lantai dua. Aku jadi semakin curiga kepadanya.
“Sudah pukul delapan.” Gumam Tuan Tyler. Ia tampak semakin gelisah. Dan tiba-tiba saja…, “AAAAA…!” teriakan itu! Aku sering mendengarnya setiap malam. “Siapa itu, Tuan Tyler?” kataku dengan cepat. Tuan Tyler segera bangkit dan menarikku untuk keluar rumah. Tapi tiba-tiba saja sesuatu mendarat di kepalaku. “Aduh!” aku meringis kesakitan sambil meraba-raba kepalaku yang terkena lemparan dan sepertinya lemparan itu berasal dari lantai dua.
“Lucy, kau tidak apa-apa? Sebaiknya kau pergi sekarang!” kata Tuan Tyler. “Tidak!” kataku dengan cepat. “Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.” Aku pun berjalan menuju tangga dan menaikinya. Ada sesuatu di lantai dua. Ah, Nyonya Tyler kan, ada di sana! Aku pun menaiki tangga dengan cepat, tanpa menghiraukan larangan dari Tuan Tyler. Mungkin saja Nyonya Tyler sedang dalam bahaya.
Ketika sudah ada di lantai dua, aku melihat seorang wanita tua berteriak-teriak sambil melempar berbagai benda yang ia lihat. Setelah kuperhatikan lagi, ternyata dia adalah Nyonya Tyler! “Oh, tidak!” celetukku sambil menutup mulut. Nyonya Tyler langsung menatapku dengan tajamnya. Dia memang mirip dengan sosok yang sering kulihat secara sekilas melalui jendela.  
“Lucy! Cepatlah turun! Aku akan memberitahumu segalanya!” teriak Tuan Tyler di lantai bawah. Nyonya Tyler sudah berjalan dengan pelan mendekatiku, sambil berteriak-teriak. Namun aku segera berlari menuju lantai bawah seperti yang dikatakan oleh Tuan Tyler.
Tuan Tyler lalu mengajakku keluar dari rumah untuk menghindari Nyonya Tyler. “Lucy, kau harus tahu satu hal ini. Kau mungkin terganggu oleh teriakannya. Tapi itu memang terkadang terjadi pada lansia yang memiliki penyakit demensia. Dia mengalami Sundowning Syndrome. Di mana ketika matahari tenggelam dan hari mulai gelap, dia mulai marah-marah, gelisah, bahkan berteriak. Sekarang, pulanglah, Lucy. Kuharap kau bisa mengerti.” Kata Tuan Tyler sambil memegang bahuku dan menatapku seolah ingin meyakinkan. “Yang kau lihat selama ini adalah Nyonya Tyler.”
Aku hanya mengangguk, lalu berjalan meninggalkan Tuan Tyler menuju rumah. Aku bahkan tak bisa melontarkan sepatah katapun pada saat itu. Tapi pada akhirnya, aku pun merasa lega dan bisa tidur dengan nyenyak di hari-hari setelahnya.
-THE END-

Yeahh, itulah cerpennya yang kalah. biasa aja. alurnya juga biasa. maunya buat plot twist. tapi apalah. dengan cerpen seperti ini, begitu di salin di kertas empat lembar, makin di salah-salahin kalimatnya sama yang nyalin (tidak disengaja, kok). tapi biarin dah. sudah berlalu, ya gak sih? lagian bukan sepenuhnya salah yang nyalin. aku juga buat cerpen 4 lembar katanya banyak :'D duh, seperti biasa, aku curcol di sini. abis..., ah, sudahlah. Hope you enjoy the story, and.... see you!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages