Ragam Ruang Orang Muda untuk Jaga Bumi - My Life My Journey

What's New?

Rabu, 25 Oktober 2023

Ragam Ruang Orang Muda untuk Jaga Bumi

Pada suatu Sabtu pagi yang cerah, puluhan anak muda menanam ratusan benih pohon bambu di bantaran Sungai Cikapundung, Bandung. Dengan semangat untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan air bersih, mereka bergerak bersama bahu-membahu untuk mewujudkan The Greenbelt Project, suatu kegiatan yang awalnya saya ragukan bisa benar-benar terealisasi.

Menginisiasi suatu project yang melibatkan banyak orang dan menjamin dampaknya berkelanjutan merupakan hal yang saya pikir akan sulit untuk dijalani sendiri. Oleh karena itu, team up for impact adalah jawaban atas kekhawatiran saya itu. Bersama lima orang muda lainnya, kami mulai membangun The Greenbelt Project sejak pertengahan 2023 dan masih aktif bergerak hingga kini. Tak lupa juga, proses implementasi project ini tak akan berjalan lancar tanpa puluhan volunteers muda, para pemangku kepentingan, dan local hero yang turut membantu.

Seiring berjalannya waktu, perjalanan saya di bidang lingkungan telah mempertemukan saya dengan berbagai sosok dan aksi yang sangat inspiratif. Selain The Greenbelt Project serta orang-orang yang ada di dalamnya, saya juga belajar banyak melalui pengalaman dan pembelajaran baru yang saya dapatkan. Semuanya akan saya rangkum dan ceritakan di tulisan ini. Yuk, disimak!

Foto: Dokumentasi kegiatan The Greenbelt Project


Tentang The Greenbelt Project

The Greenbelt Project adalah inisiatif yang bertujuan untuk menjadi salah satu solusi atas permasalahan air. Sebagai langkah awal, The Greenbelt Project berfokus dalam permasalahan air di Sungai Cikapundung yang terletak di Bandung, Jawa Barat. 

Pada awal tahun 2023, saya berkesempatan untuk mempelajari tentang konservasi air bersih, khususnya di Sungai Cikapundung yang merupakan sungai terpanjang di Bandung. Saya bertemu dengan seorang Nusep Supriadi, local hero yang sudah cukup lama bergerak untuk melestarikan Sungai Cikapundung. Setelah berbicara dengan sosok yang akrab disapa Kang Nusep itu, saya melihat adanya permasalahan dan harapan di Sungai Cikapundung.

Nusep Supriadi di Serlok Bantaran, Sungai Cikapundung (Foto: dokumentasi pribadi)


Permasalahannya, Sungai Cikapundung kian tercemar oleh limbah ternak, industri, dan domestik berasal dari ribuan penduduk yang tinggal di sekitar sungai. Adapun sebagian besar dari limbah ternak dan industri datang kawasan hulu Sungai Cikapundung. Selain itu, pencemaran diperburuk oleh deforestasi di kawasan tersebut, membuat daerah di sekitar sungai rentan akan terjadinya banjir dan longsor. Saat musim hujan, limbah-limbah dari kawasan hulu akan mengalir ke Sungai Cikapundung dan memperparah pencemaran. Ditambah lagi dengan potensi longsor yang akan menurunkan tumpukan sampah di pinggir sungai. 

Harapan muncul salah satunya dari langkah yang telah diambil oleh Kang Nusep dengan membentuk komunitas Serlok Bantaran. Melalui komunitas tersebut, Kang Nusep menjaring berbagai kalangan, termasuk anak-anak muda, untuk bersama menjaga kelestarian Sungai Cikapundung melalui konservasi bambu, ikan native, serta mata air. 

Dengan adanya harapan tersebut, The Greenbelt Project berupaya untuk ikut mendukung sembari mempelajari langkah-langkah konservasi yang telah dilakukan di Serlok Bantaran. Kami mengumpulkan puluhan relawan muda dari berbagai latar belakang untuk belajar tentang konservasi air bersih dan melakukan aksi penanaman pohon bambu. Manfaat pohon bambu untuk sungai beragam, mulai dari mencegah lebih banyak limbah untuk masuk ke dalam sungai, hingga mampu bertindak sebagai sumber air dan memproduksi air bersih.   

Apa Saja Kegiatan yang Telah Kami Lakukan?

Rangkaian Kegiatan The Greenbelt Project (Foto: Dokumentasi The Greenbelt Project)
  1. Workshop 

Pada 16 dan 17 September lalu, kami melaksanakan workshop dengan para volunteers muda sebagai partisipannya. Hari pertama workshop mempelajari tentang cara memahami isu air bersih dan cara mengatasinya melalui pemaparan materi dari Kang Nusep. Setelahnya, para volunteers mengikuti sesi diskusi untuk membantu mereka mengidentifikasi permasalahan air bersih yang mungkin terjadi di area tempat tinggal mereka. 

Hari selanjutnya adalah workshop tentang cara pemanfaatan bambu, khususnya dalam hal kerajinan. Para volunteers diperkenalkan dengan berbagai kerajinan yang terbuat dari bambu, mulai dari tumblr, cangkir, hingga lampu. Mereka pun dapat mempraktikkan proses pembuatannya setelah mendapatkan berbagai insights terkait bambu dari Pak Waluyo selaku Wakil Ketua Perhimpunan Pelaku Usaha Bambu Indonesia.  

  1. River Clean Up

Tepat seminggu setelah melaksanakan workshop, kami dan para volunteers membersihkan Sungai Cikapundung di kawasan Serlok Bantaran. Sebenarnya, bersih-bersih sungai di sekitar kawasan tersebut merupakan kegiatan rutin yang sudah dilakukan oleh berbagai komunitas, tapi sampah datang tanpa henti! Jadi, harus selalu dibersihkan. Pada saat kami melakukan river clean up, setidaknya sampah yang terkumpul mencapai empat karung. 

  1. Penanaman Pohon Bambu

Setelah melakukan river clean up, kami pun melanjutkan kegiatan dengan menanam lebih dari 200 pohon bambu di bantaran sungai. Terdapat lima jenis pohon bambu yang kami tanam, meliputi bambu paku, bambu cendani, bambu ampel kuning, bambu panah, dan bambu krisik varigata. Setiap jenis bambu itu juga merupakan pohon adopsi para volunteers yang berasal dari lima kampus berbeda di Bandung, yakni Unpas, ITB, Unpad, UIN SGD Bandung, dan Unikom. 

  1. Merawat Pohon Bambu

Selain menanam bambu, kami tentu harus memastikan pohon-pohon tersebut dapat tumbuh dengan baik. Setiap minggunya, kami mengajak para volunteers untuk melihat progres pertumbuhan pohon bambu yang mereka tanam sembari menyiram dan merawatnya. Selain itu, teman-teman dari Serlok Bantaran pun turut membantu kami untuk menyirami bambu setiap harinya. 

Yuk, Dukung Inisiatif dalam Menjaga Lingkungan!

Selain The Greenbelt Project dan Serlok Bantaran, tentu masih ada berbagai inisiatif lainnya yang bisa menjadi wadah orang muda untuk menjaga Bumi, lho! Melalui Online Gathering #EcoBloggerSquad (EBS), saya belajar banyak tentang berbagai isu lingkungan serta aksi yang bisa kita lakukan untuk menjadi bagian dari solusinya! Berikut adalah daftar inisiatif yang saya pelajari melalui Online Gathering dan tentunya perlu kita dukung:

  1. Eathink

Melalui Eathink, kita akan diajak untuk menjadi konsumen makanan yang bisa bertindak dengan lebih berkelanjutan. Dalam Online Gathering EBS, Jaqualine selaku Co-Founder dan CEO Eathink menjelaskan beberapa poin penting tentang konsumsi makanan yang berkelanjutan. Hal itu meliputi isu-isu penting, mulai dari agrikultur yang berkelanjutan, tantangan nutrisi, dan limbah makanan.

Isu penting terkait food sustainability (Foto: Eathink dalam Online Gathering EBS)


Upaya yang bisa kita lakukan sebagai konsumen untuk menghadapi permasalahan tersebut adalah dengan mengonsumsi makanan secara berkelanjutan. Eathink pun membagikan informasi terkini melalui konten digital tentang ketahanan pangan, menyediakan program pembelajaran, dan produk yang relevan untuk membantu kita dalam membangun kebiasaan konsumsi yang sehat dan berkelanjutan.  

  1. Skelas

Skelas (Sentra Kreatif Lestari Siak) adalah pusat inovasi yang diinisiasi oleh orang muda Kabupaten Siak melalui kerja sama multipihak untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Hal tersebut dilakukan dengan menghadirkan solusi kreatif untuk mewujudkan kelestarian alam, budaya, dan kesejahteraan bersama.


Program-program Skelas (Foto: Skelas dalam Online Gathering EBS)


Cerli Febri Ramadani, Ketua Skelas, menjelaskan bahwa terdapat berbagai program yang dijalankan oleh komunitasnya. Mulai dari program untuk memicu orang muda lintas sektor untuk bergerak bersama membuat solusi kreatif yang disebut Gommunity (Government & Community), hingga program KUBISA (Inkubasi Bisnis Lestari) yang merupakan pelatihan dan pendampingan untuk pelaku usaha agar makin berkembang.

  1. Trend Asia

Sebagai organisasi yang berfokus pada transformasi energi dan pembangunan berkelanjutan di Asia, Trend Asia dalam Online Gathering EBS membuka mata kami tentang bioenergi. Materi mengenai topik tersebut disampaikan oleh Amalya Reza, Manajer Bioenergi Trend Asia. Beberapa dari kita mungkin agak terkecoh dengan adanya istilah ‘bio’ di dalam ‘bioenergi’ dan membuat kita beranggapan bahwa sumber energi tersebut benar-benar ramah lingkungan. Namun, Trend Asia menekankan adanya praktik yang justru berkebalikan dengan anggapan itu. Kenapa? Coba deh, simak penjelasannya melalui video dari Trend Asia berikut!



Jadi, sebenarnya ada banyak ruang bagi kita, orang-orang muda, untuk mulai bertindak, belajar, dan mendukung upaya menjaga alam. Kita tentunya juga bisa memulai dari diri sendiri. Cobalah amati dan pelajari permasalahan yang ada di sekitarmu dan tentukan langkah apa yang bisa kamu ambil sebagai solusinya. Besar maupun kecil, tindakan yang kamu ambil itu akan berdampak pada masa depan kita semua.  Bersama-sama, mari menjadi bagian dari solusi untuk lindungi Bumi!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages