Im Back With My... - My Life My Journey

What's New?

Kamis, 27 Oktober 2016

Im Back With My...

Hello! what's up guys? udah lama nih gak nulis di blog. curhat dikit, akhir-akhir ini agak sibuk karena ada aja kegiatan. kalo pas SMP pulang jam 3-5 itu namanya pulang telat, beda lagi sama SMA. Di mana pulang jam 3-5 itu termasuk pulang cepet. dan yang normal adalah pulang jam 6-8 malem. But, honestly, jadi anak SMA lumayan nyenengin sih. Seru juga.

Back to topic. Im back with.... my next failure. Kayaknya sekarang mending to the point aja ya. Hope you enjoy the story ^^


Tak Sebanding

Dengan langkah setengah berlari Lana menghampiri meja makan dan mengambil sehelai roti lalu mengoleskannya dengan selai stoberi. Sesekali, ia melirik jam tangannya dan matanya semakin melebar karena terkejut dan juga takut.
“Duh, udah jam tujuh! Lana harus pergi sekarang!” ujarnya dengan mulut dipenuhi roti. Ia pun segera berlari keluar rumah. Ia bahkan lupa meminum air putih saking terburu-burunya. Dan satu hal yang bahkan tidak ia sadari dan juga lupakan, Ayah dan Ibunya ada di sana. Lana tidak berpamitan lagi.
“Mampus deh sekarang. Harus cepet-cepet nih!” Lana merutuk sambil terus berlari dan berlari. Jarak antara rumahnya dan sekolah tidaklah jauh. Maka dari itu, dengan berjalan kaki saja dia bisa sampai di sekolah dalam lima menit.
Lana merasa semakin panik ketika ia melihat pintu gerbang sudah hampir tertutup. “Pak! Tunggu, pak!” saat itu juga, Lana berlari semakin kencang. Beruntung, akhirnya ia bisa menembus pintu gerbang yang hampir tertutup itu. “Huft ….” Lana menghela napas lega dan ia kini bisa berjalan dengan tenang menuju kelas.
Sesampainya di kelas, Lana mendengar teman-temannya bergosip tentang sesuatu. “Eh, ngomongin apa sih?” tanyanya kepada salah satu teman yang duduk di depannya. Kebetulan, Lana yang sedikit pemalas dalam berbagai hal itu duduk di deretan paling akhir.
“Katanya mau ada murid baru di kelas ini. Dan nanti, dia pasti duduk sama  …,” salah satu teman Lana itu tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Bu Wati, wali kelas mereka sudah datang.
“Baik anak-anak, Ibu di sini ingin memperkenalkan murid baru yang akan belajar bersama kalian di kelas ini kedepannya.” Bu Wati lalu menoleh ke arah pintu masuk kelas. “Ayo, Nak. Masuk.”
Seorang perempuan berpenampilan rapi masuk ke dalam ruangan dengan ekspresi yang sangat datar. Ketika memperhatikannya, Lana mulai menganggap kalau murid baru itu tidak punya gairah hidup sama sekali.
“Perkenalkan dirimu.” Perintah Bu Wati.
“Baik. Perkenalkan, nama saya Seila.”
Hening sejenak. Semuanya menunggu Seila untuk melanjutkan.
“Itu saja dari saya. Tidak ada hal lain yang perlu kalian ketahui, terima kasih.” Ucapnya setelah perkenalan diri yang pendek itu.
“Hm, baiklah kalau begitu. Seila, kamu bisa duduk di samping Lana.” Kata Bu Wati tanpa ingin mendesak Seila untuk memperkenalkan dirinya lebih jauh lagi. “Baik, Bu.” Sahut Seila dengan suara semut dan berjalan menuju meja Lana. Ia sempat menatapi Lana lekat-lekat sebelum duduk di sampingnya. Sedangkan Lana sendiri tak terlalu memperdulikan Seila yang ia anggap anak aneh itu.
***
Saat jam istirahat, beberapa teman-teman Lana tinggal di kelas untuk memakan makan siang yang mereka bawa dari rumah. Ia sebenarnya juga akan melakukan hal yang sama, namun Lana lebih memilih untuk tidak membawa bekal buatan Ibunya itu karena menurutnya makanan di kantin lebih enak.
“Eh, kamu enggak bawa bekal? Mau ke kantin bareng aku?” tanya Lana kepada Seila. Teman sebangkunya itu lalu menggeleng.
“Ya udah, aku ke kantin dulu, ya.” Kata Lana dan beranjak dari kursinya. Tapi sebelum itu, ia mendengar suara dering telepon yang terdengar dari dalam tasnya. Dengan cepat Lana mengambil handphone-nya dari dalam tas.
“Ya? Kenapa nelpon, Bu?”
“Bekalnya kok di tinggal lagi?” tanya Ibunya di ujung sana.
“Biasa, Lana lupa, Bu. Besok-besok Ibu enggak usah buatin Lana bekal. Lana beli di kantin aja.”
“Lana, mendingan kamu bawa bekal aja. Selain kesehatannya terjamin, juga kamu bisa hemat uang jajan, kan?” lagi-lagi Ibunya berceramah seperti biasa. Sampai-sampai telinga Lana rasanya sudah sangat sangat bosan mendengar ceramah seperti itu.
Lana memutar bola matanya dan mendesah. “Terserah Ibu, deh. Lana mau ke kantin sekarang.” Lalu, Lana mengakhiri teleponnya.
***
“Kamu enak, ya. Punya Ibu yang perhatian.” Baru saja Lana sampai di kelas setelah datang dari kantin, ia sudah diberi perkataan yang terdengar aneh di telinganya. Hal mengejutkannya, perkataan itu muncul dari Seila, yang daritadi hanya diam saja.
“Perhatian apanya? Ibuku tuh ya, sukanya ngomel terus.” Sanggah Lana.
“Artinya Ibu kamu sayang sama kamu.” Lana membalas dengan wajah yang tampak kian murung. Ia tampak begitu sedih akan sesuatu.
Lana pun mencoba untuk ramah kepada teman sebangkunya itu. “Emangnya, Ibu kamu gak kayak gitu?”
Seila menggeleng. “Bahkan Ayahku pun sama. Dan sekarang, orang tuaku bercerai.”
“Kenapa mereka cerai? Apa alasannya?” Lana tak bisa membayangkan bagaimana jika Ayah dan Ibunya bercerai. Ia tak ingin hal itu terjadi.
“Karena Ibuku selingkuh. Dan sekarang aku tinggal bersama Ibuku. Asal kamu tahu, Ibuku sangat berbeda dengan Ibumu. Tak peduli seberapa baiknya aku kepadanya, Ibu tetap saja mengabaikanku dan tidak memperhatikanku.”
Lana tiba-tiba teringat akan perbuatannya kepada Ibunya. Sengaja melupakan bekal yang sudah dibuatkan, tidak berpamitan, tidak mengabari kalau ada kerja kelompok, ia tak pernah memikirkan Ibunya yang selalu memikirkan dan mengkhawatirkannya.
“Dan ayahku, dari dulu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Mereka sepertinya menganggap kalau memberiku uang untuk hidup saja sudah cukup, sedangkan kasih sayang tidak diperlukan.” Kata Seila lagi dengan mata berkaca-kaca. Saat itu juga, Lana benar-benar tak bisa mengatakan apapun. Ia bisa membayangkan kesedihan itu jika saja hal yang sama terjadi padanya.
Lana juga membayangkan bagaimana Ayahnya yang selalu menyempatkan diri untuk pergi ke kamarnya dan menanyai tentang hari-harinya walaupun Ayahnya juga sangat disibukkan oleh pekerjaan. Namun, Lana malah menjawab sekedar dan menganggap kalau Ayahnya menganggu.
“Aku mengatakan hal ini agar kamu bisa bersyukur punya orang tua seperti mereka. Selain itu juga menghargai mereka.” Sambung Seila lagi seraya menghela napasnya, seolah ia sudah menahan napas sejak mulai berbicara.
Suasana hening menyeruak untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya Lana angkat bicara. “Makasih, La. Karena kamu, aku sadar udah melakukan banyak kesalahan dengan orang tuaku. Aku selalu mengabaikan mereka dan enggak menghargai mereka. Aku benar-benar menyesal, La.” Lana terpaku untuk beberapa saat seraya merenung.
Seila lalu mengelus-elus pundak Lana seolah ingin menenangkan sekaligus meyakinkan. “Lan, seharusnya kamu ngomong gitu sama mereka. Setidaknya, kamu udah sadar akan perbuatanmu. Mereka itu penting, Lan.”
Lana lalu tersenyum seraya mengangguk mantap. Ia akan berubah, saat itu juga.
***
“Lana? Wah, anak Ibu udah bisa bangun pagi, nih!” celetuk Ibunya ketika melihat Lana yang sudah duduk di samping meja makan menunggu sarapan.
“Ini Lana anak Ayah, kan?” tiba-tiba Ayah juga datang sambil membenarkan dasinya dan juga tersenyum lebar.
Lana mendengus mendengar perkataan kedua orang tuanya yang ia tahu hanya sekedar bercanda itu. “Iya, ini Lana anak Ayah sama Ibu, kok.”
Seketika saat itu juga, mereka tertawa bersama-sama. Lana tak tahu kalau suasana seperti ini terasa begitu hangat dan menyenangkan. Ia bahkan baru menyadari kalau makan sarapan bersama keluarga juga terasa berbeda. Lebih menyenangkan, tentunya daripada sarapan terburu-buru.
Selesai sarapan, Lana pun meraih tangan kanan Ayahnya dan menciumnya. Lalu, ia juga melakukan hal yang sama kepada Ibunya. “Ibu, Ayah, Lana pergi ke sekolah sekarang, ya.” ucapnya tak lupa dengan senyum manis di bibirnya. “Oh ya. Bekalnya udah Lana bawa, kok. Lana udah inget.” Imbuhnya.
Ayah dan Ibu Lana terlihat sedikit terkejut dengan perubahan drastis yang terjadi pada anak mereka. Sampai akhirnya mereka bisa mengendalikan keterkejutan itu. “O-oh, Iya, Nak. Hati-hati di jalan, ya.” Kata Ayah. “Hati-hati di jalan, Sayang.” Kata Ibu.
Dan saat itu, Lana pun pergi meninggalkan kedua orang tuanya dengan senyum yang seolah melekat pada bibirnya. Ia baru merasakan dan menyadari seberapa penting keluarganya dalam hidupnya. Bahkan hal-hal kecil seperti itu, berarti begitu besar untuknya dan juga orang tuanya.
Sedangkan di sisi lain, kedua orang tua Lana masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. “Bu, Lana kenapa, ya? Kemarin, dia juga bisa ngobrol banyak sama Ayah. Enggak kayak biasanya.” Kata Ayah masih dibuat terheran-heran.
“Ibu juga enggak tahu. Ayah lihat kan, tadi? Bekalnya Ibu akhirnya dibawa!” Ibu tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat itu.
“Tapi baguslah kalau anak kita berubah seperti itu.” Ujar Ayah sambil tersenyum lebar. Ia lalu melirik jam tangannya. “Oh ya. Sekarang giliran Ayah yang berangkat.”
“Iya, hati-hati di jalan, ya.”
Dan pada akhirnya, mereka pergi dengan senyuman, dan pulang juga dengan senyuman. Bersama merasakan hangatnya kasih sayang keluarga yang tak sebanding dengan apapun.

***

Emang pantes buat kalah yak? :v anyway, sorry for the cover. itu buatnya bener-bener ngawur karena baterai laptop masih dikit :'v 
Dan kayaknya, laptopku udah mau mati nih. so, I've to say goodbye, and see ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages