Manfaat dari Overthinking yang Perlu Kamu Ketahui - My Life My Journey

What's New?

Selasa, 12 Januari 2021

Manfaat dari Overthinking yang Perlu Kamu Ketahui

Foto oleh Ekaterina Bolovtsova dari Pexels


Overthinking adalah Kemampuan Berpikir yang Sering Disalahgunakan

 

Sejauh ini, aktivitas yang paling sering saya lakukan selama terjebak di rumah aja adalah overthinking. Bahkan jika di-ranking berdasarkan kuantitas total waktu tiap harinya, overthinking menduduki peringkat kedua sebagai kegiatan paling lama yang saya lakukan dengan jumlah sekitar tiga jam per hari. Omong-omong, yang pertama adalah nonton serial Netflix. Saking gabut-nya, saya tidak tahu harus ngapain lagi dan memutuskan untuk menyiksa diri dengan tenggelam dalam pikiran saya sendiri.


Permasalahannya, overthinking adalah siklus berpikir yang topiknya itu itu saja, biasanya bersifat negatif, dan pada akhirnya bikin pusing dan stres sendiri. Padahal, semua yang kita pikirkan itu belum tentu benar jika kita mengkhawatirkan tentang masa depan dan tidak bisa diubah jika kita memikirkan tentang masa lalu. Namun, kita terus-terusan membombardir otak dengan asumsi dan kemungkinan-kemungkinan terburuk. Terkadang, saya berpikir: kalau dipikir-pikir, kenapa harus dipikirin banget? Nah, saya mulai overthinking lagi.


Saya yakin, saya nggak spesial. Pastinya, bukan saya saja yang punya kemampuan untuk berpikir secara berlebihan ini. Ya, anggap saja overthinking ini adalah suatu kemampuan super. Merancang berbagai macam skenario buruk yang mungkin terjadi besok, memikirkan alternatif perkataan lain yang seharusnya dikatakan dalam percakapan di masa lalu, menebak-nebak pandangan orang lain terhadap diri kita sendiri, kita semua barangkali punya kreativitas berpikir negatif seperti itu. Namun, harus saya katakan bahwa kemampuan ini ada efek sampingnya. Jika dilakukan terus-menerus, tidak baik untuk kesehatan.


Perlu disadari bahwa overthinking sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah atau menghasilkan apa pun selain kecemasan dan penyesalan. Awalnya, saya berpikir demikian. Beberapa artikel yang saya baca juga berkata demikian. Hingga akhirnya, saya mencoba memikirkan tentang overthinking dan mencari sisi terangnya. Saya lakukan hal itu semata-mata karena saya merasa tidak mungkin menghentikan kemampuan overthinking di tengah kondisi yang memberikan saya cukup banyak waktu luang.


Setelah membaca artikel lain yang membahas sisi baik dari overthinking, saya pun sampai pada kesimpulan bahwa overthinking yang selama ini saya lakukan adalah jenis yang “disalahgunakan”. Overthinking, dalam beberapa hal, bisa menjadi sesuatu yang bagus. Setelah melalui proses berpikir dengan memosisikan diri dari sudut pandang yang berbeda, akhirnya saya bisa menyuguhkan diri saya sendiri beberapa alternatif penggunaan kemampuan overthinking untuk meminimalisasi efek sampingnya.


1.   1. Kalau cukup kreatif dalam membuat kemungkinan terburuk, harusnya cukup kreatif juga dalam membuat solusi terbaik


Tentunya ada kreativitas berpikir yang berperan ketika sedang overthinking. Biasanya, ketika saya sedang melakukan kebiasaan saya itu, saya hanya akan mencemaskan masalah-masalah yang ada dan tiada. Padahal, ada satu hal penting, jarang menampakkan diri, sukanya dicari, ialah solusi.


Jika sedang asyik overthinking, ada baiknya luangkan waktu untuk memikirkan solusi. Saya pernah memikirkan suatu masalah, terus-terusan memikirkan “gimana jika …” hingga akhirnya saya sendiri kehabisan ide untuk membuat diri saya cemas. Saya pun berdebat dengan diri sendiri mengenai apa yang harus saya lakukan. Ketika akhirnya saya menemukan solusi yang bagus, untuk pertama kalinya, saya merasa overthinking adalah sesuatu yang cukup produktif.


2.     2.  Sadar atau tidak, overthinking bisa bikin kita lebih teliti


Detail-detail kecil seperti “kenapa dia balas chat dengan titik?” saja bisa dipikirkan siang malam oleh seorang overthinker pro. Bayangkan saja kalau misalnya kemampuan “terlalu peka” itu lebih diasah lagi.


Suatu hari, saya akan menghadapi sebuah ujian yang membuat saya nggak bisa tidur, pikiran kalut nggak karuan. Saya pun mulai mencemaskan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan, seperti “gimana kalau pensil saya jatuh ketika mengerjakan ujian dan nggak bisa saya temukan, jadinya saya nggak fokus ngerjain ujian?” dengan kemampuan pada poin satu, solusinya adalah membawa pensil lebih. Besoknya, ketika mengerjakan ujian, untungnya pensil saya tidak jatuh, tetapi setidaknya saya sudah prepared for the worst.


3.      3. Alur overthinking bisa mengantar kita menuju refleksi diri


Overthinking biasanya bersifat muter-muter aja. Itu adalah alur overthinking yang disalahgunakan. Nggak bakal sampai ke mana pun karena, ya, muter terus. Overthinking biasanya mengantarkan kita menuju penyesalan. Contoh, penyesalan tentang masa lalu. Harusnya begini, harusnya begitu. Kalau sudah mulai menyesal, jangan sampai terjebak dan diam di siklus itu. Dorong terus pikiran agar hal itu bisa jadi bahan refleksi diri.


Ketika saya sedang overthinking mengenai kegiatan overthinking yang sudah terlalu sering saya lakukan (oke ini contoh yang buruk, tapi semoga paham), saya terkadang menyesali waktu yang terbuang sia-sia begitu saja. Harusnya saya nggak overthinking, harusnya saya melakukan ini, melakukan itu. Sampai lelah sendiri akhirnya. Saya pun mencoba alternatif poin ketiga ini. Saya mulai berpikir bahwa harusnya saya bisa menggunakan kemampuan overthinking saya dengan bijak di lain waktu. Hingga akhirnya ketika saya overthinking lagi, saya bisa menuntun alur berpikir saya.


Sekiranya seperti itulah beberapa alternatif penggunaan kemampuan overthinking yang terkadang saya lakukan. Mungkin tidak selalu mudah untuk dilakukan, tetapi bisa dicoba. Mungkin masalahnya bisa jadi jauh lebih kompleks daripada contoh-contoh absurd di atas, tetapi “overthinking yang disalahgunakan” nggak akan membantu menyelesaikannya.

 

 

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages