CERPEN: Jangan Buka Mata - My Life My Journey

What's New?

Senin, 15 Februari 2021

CERPEN: Jangan Buka Mata

Cerpen ini ditulis pada suatu hari di tahun 2020. Baru posting sekarang karena baru sadar. Enjoy reading!



Jangan Buka Mata

 

Entah bagaimana ceritanya, tapi aku sudah mendapati diriku duduk menopang dagu dengan mata setengah terbuka di dalam kelas. Ah, kurasa aku baru saja terbangun dari tidur di siang bolong. Mungkin saking membosankannya cara Bu Susan mengajar yang seperti hanya mengobrol dengan papan tulis itu, tanpa sadar aku mencuri waktu sebentar untuk tidur.

Tak ada yang menyadari ada seorang siswa tertidur di bangku belakang, bahkan Anton, teman sebangku yang tumben tidak berniat untuk mengusikku sama sekali. Aku mengerjap-kerjapkan mata berusaha mengenyahkan rasa kantuk yang masih sedikit tersisa. Kubuka buku kimia yang masih tertutup rapat di mejaku.

“Halaman berapa, Ton?”

“Nyenyak tidurnya?”

Aku terkesip ketika mendengar balasan berupa suara berat berisi, sangat berbeda dengan suara Anton. Aku menoleh dan bisa kurasakan mataku membesar, barangkali sudah berubah seukuran bola pingpong. 

Orang yang duduk di sampingku bukan lagi Anton, tapi seorang lelaki berambut cepak, bermata tajam, dan lesung pipit tipis terlihat menghiasi wajahnya karena kini ia tersenyum kepadaku. Aku yakin dia bukanlah Anton yang habis operasi plastik. Perasaanku jadi tidak karuan. Belum pernah kulihat wajah seperti ini di sekolah.  

“Murid baru?” tanyaku berusaha terdengar biasa saja, padahal kupingku panas terdistraksi oleh suara detak jantungku yang entah kenapa terdengar begitu keras.

KRING!!!

Begitu mendengar bel berbunyi, ia langsung berdiri dan melupakan pertanyaanku. “Sudah waktunya istirahat, ayo,” ia mengajakku keluar kelas. Tanpa pikir panjang aku langsung mengekorinya. Astaga, aku bahkan belum tahu namanya siapa.

Suasana di luar kelas mendadak berubah begitu ramai. Semua orang tampak berjalan tidak sabaran menuju suatu tempat. Kami ikuti ke mana semua orang pergi. Kemungkinan menuju ke lapangan basket.

 “Hari perayaan ulang tahun sekolah memang seheboh ini, ya?” tanyanya yang berjalan di sampingku.

Sebelum merespons, aku sempat memaki-maki diri sendiri dalam hati. Baru teringat olehku bahwa hari ini adalah hari ulang tahun sekolah. Bagaimana bisa aku lupa? Kemudian aku menoleh, tersenyum, dan mengangguk. Suasana terlalu ribut untuk meneruskan obrolan. Apalagi, tidak bisa kubayangkan jika aku harus lebih dekat dengannya atau dia harus mendekatiku karena tidak bisa mendengar suara satu sama lain.

“AYO SEMUA KITA NYANYI BARENG!”

Terdengar suara seseorang melalui pengeras suara diiringi musik. Suara itu semakin keras ketika akhirnya aku sampai di lapangan basket. Semua orang bersorak-sorak, bersemangat ingin ikut bernyanyi seraya mengangkat-angkat tangan mereka. Aku yang baru sampai harus berjinjit ingin melihat si penyanyi. Suaranya terdengar familiar.

Beberapa saat kemudian, suara musik memelan, semua orang mulai tenang dan siap mendengar si penyanyi melantunkan lagu berikutnya.

“Anton?!” aku hampir memekik saking tidak percayanya. Teman sebangkuku itu sedang berdiri di atas panggung, siap bernyanyi. Aku siap menutup telinga.

 “Kamu kenal dia? Suaranya bagus,”

Tidak bisa kupungkiri bahwa suara Anton mendadak jadi bagus. Mungkin dia lip sinc, tapi beberapa orang tampak terkagum-kagum dengan menyoraki namanya. Terlepas dari apapun yang sedang merasukinya, aku bangga pada temanku itu.

Beberapa saat setelah manggung, Anton menghampiriku. Semakin jelas kulihat sosoknya yang tampil beda dengan jaket denim, bawahan ripped jeans, dan sepatu sneakers putih. Rasanya sudah lama ketika terakhir kali melihatnya sebagai “cowok hoodie” yang bahkan enggan memperlihatkan wajahnya.

“Acaraku sudah selesai. Nggak apa-apa kalau mau pergi sekarang.”

Anton tersenyum kepadaku dan cowok di sampingku, seolah ia sudah biasa melihat kita berdua. Aku ingin mengobrol lebih banyak dengan Anton, tapi beberapa orang tiba-tiba mengerumuninya. Terpaksa aku harus mundur.

Segalanya terjadi begitu cepat, aku berusaha memprosesnya.

“Ayo keluar dari sini,” cowok itu masih berdiri di sampingku. Ia tersenyum. Seketika napasku tertahan. Tidak ada satupun kata yang bisa kukeluarkan. Maka aku hanya mengangguk mengiyakan.

Kami keluar dari sekolah, kemudian pergi menuju taman kota. Ia masih berjalan beriringan denganku. Entah kenapa rasanya aku sudah mengenalnya sejak lama. Kami yang sama-sama tidak mengucapkan sepatah katapun, tidak lantas membuat suasana serasa canggung. Bahkan sepertinya, ia sengaja diam karena ia tahu apa yang sedang kurasakan, apa yang sedang kupikirkan.

 Aku merasa kesal. Tak bisa kuketahui dengan pasti alasan kenapa aku merasa begitu kesal, dicampur sedikit kesedihan, dan rasa kecewa. Berbagai jenis perasaan tercampur aduk, tak terdefinisi, tak bisa diungkapkan. Mungkin ini tentang Anton yang tiba-tiba jadi keren dan seolah mulai melupakanku, teman sebangkunya yang sering diganggu kalau dia bosan.

Sisi baiknya, orang baru datang begitu saja ke kehidupanku dan benar-benar menggantikan peran Anton sebagai teman di dalam dan di luar kelas. Kehadirannya membuatku merasa tenang, meskipun ia tidak banyak bicara. Namun, ia menunjukkan begitu banyak hal dalam beberapa jam terakhir.

Ia membawaku ke toko roti yang bahkan menjual croissant terbaik kedua setelah buatan Mama. Wangi yang menguar dari roti itu hampir sama dengan wangi croissant yang hadir di atas meja makan setiap akhir pekan. Ia membelikanku es krim vanilla tanpa bertanya dulu, seakan ia sudah tahu itu adalah rasa favoritku. Ia juga membawaku ke perpustakaan dan menemukan buku yang telah lama kucari-cari­­­­­buku yang dulu sempat dijanjikan oleh Mama.

Sayangnya, waktu berjalan begitu cepat ketika bersamanya. Mentari sudah menyingsing di ufuk barat, menyisakan kombinasi warna oranye, biru, dan merah muda di langit. Namun sebelum hari ini berakhir, ia mengajakku untuk menaiki bianglala. Wahana itu terletak tidak jauh dari sekolah. Aku pun mengiyakan.

“Semuanya terlihat indah dari sini,” ujarnya ketika bianglala sudah bergerak.

Aku menengok ke samping. Langit sudah gelap, membiarkan semua lampu di perumahan terlihat semakin berpendar indah. Semua pemandangan itu membuatku déjà vu. Sudah lama sekali, sejak terakhir kali aku menaiki bianglala. Kalau tidak salah, itu sudah bertahun-tahun lalu dengan Mama.

“Pertama kali aku naik bianglala itu waktu aku masih kecil. Mama terus-terusan mendekapku, takut aku jatuh.” Ungkapku sambil terkekeh.

“Mamamu nggak akan marah, kan?”

Pertanyaan itu membungkamku. Sebelum aku sempat menjawab, bianglala tiba-tiba berhenti berputar. Tepat ketika kami berdua berada di titik paling atas.

“Kenapa tiba-tiba berhenti?” aku panik.

“Sepertinya kita harus lompat.” Dari nada bicaranya, jelas ia juga sedang panik.

“Apa?!”

“Nggak apa-apa, percaya sama aku.”

Aku memercayainya.

“Tutup mata dan lompat!”

Aku memercayainya, maka kututup mataku. Aku melangkah menaiki tempat duduk dan sudah siap melompat. Setelah itu, ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Kurasa ia sudah melompat duluan.

Aku pun menghempaskan diri. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakannya, “Jangan buka mata!”

Kurasakan seluruh tubuhku tertarik oleh gravitasi bumi. Kukira aku akan terbang, tapi sesuatu membuatku tersentak, dan aku membuka mata.

“Heh, molor mulu kerjaannya!”

Anton baru saja menyentil keningku, seperti biasa.



4 komentar:

  1. Plot twits di akhir sudah kuduga hehe bagus gan lanjutin bikin judul yang lain,


    jangan lupa kunjungi balik dan tinggalin komen,

    https://aisurunihongo.blogspot.com/2021/02/lirik-terjemahan-maki-otsuki-memories.html

    BalasHapus
  2. Cerpennya bagus mbak

    BalasHapus

Pages